Lencana Facebook

This is default featured slide 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

laporan pertanggungjawaban PPMY

Rabu, 07 Januari 2015

kampungku

SYOKOSIMO

  Uncategorized
1
 Touris di Kampung Kilise,Wuserem,Syokosimo,jalan kaki  2-5 jam

Wamena_Perjalan tour bersama Papuatravels ke beberapa kampung yang menjadi tujuan wisata bagi Florian Gallien(31) dan Inger Lankmayer(31) asal Austria. Senin 22 november,dari Jayapura mengunakan pesawat Trigana Air bernomor 276 dengan dipiloti Kapten Bambang Sumardi, menuju kota wamena.Dan selasa,23 November tour dimulai dan dipandu oleh Damianus Wasange,Otis (Mr Cooking),Spidi dan Bolii sebagai porter(pengangkut barang turis)dan Suara Perempuan Papua yang juga ikut dalam tour 4 hari.
Kedua wisatawan ini harus mengocek Rp 50 Juta untuk Tour ke Wamena selama 4 hari.Selasa(23)pekan lalu,pukul 10.30 wit,kami mengunakan angkutan jenis Kijang berwarna merah yang dikemudi oleh Piter Wetipo.Untuk sampai ke kurima kami harus melewati kampung Megapura,Hepuba,Longsor,Wesapor,dan menyebrangi kali Yetni menuju Kurima.
Mataharipun mulai terbenam,maka kampung kilise menjadi tempat kami bermalam.Keesokan harinya Rabu(24) pukul 8.00 perjalanan dilanjutkan menuju  kampung Wuserem.Melewati jalan setapak dipinggir bantaran Sungai baliem,4 jam perjalan mendaki bukit yang bertepi jurang dengan derasnya sungai Baliem,gundukan batu menjadi ganjalan kaki menuruni tebing yang curam.Derasnya arus serasa langkah kaki mengikuti arus.Sementara ditepi sungai berjajar rapih tumpukan batu-batu putih membentuk petak-petak yang ditanami wortel,buncis,bawang merah dan petatas.Di antara pagar batu dan menengok ke arah gunung terdapat rumah alang-alang atau honai dari kejauhan terlihat kepulan asap berembus bagaikan lukisan yang memanjakan mata selama perjalanan tour.
Jembatan Sungi baliem yang panjangnya 100 meter,beralaskan papan berukuran 1 meter membentangi sungai baliem dan hanya bisa dilewati satu orang.  3 jam menapaki bantaran Kali Beliem hanya untuk menyeberangi jebatan sungai Baliem.Setelah melewati jembatan,mendaki sebuah perkampungan kecil,matahari mulai memuncak di pukul 12.30,begitu terasa sengatan teriknya matahari, keringat bercampur lelah dan  perut mulai terasa lapar dan haus.Mr.Cooking merencakan bahwa makan siang hari ini  di pinggir kali Mugi.
Jerni,bersih tenang mengalir yang  menjadi sumber kebutuhan hidup masyarakat sekitar.Terbentang tiga buah kayu,pegangan disebelah kiri dan kanan terbuat dari tali hutan yang kuat menjadi tempat penyeberangan masyarakat sekitarnya. Beberapa menit kemudian,terdengar sontakan kaki-kaki kecil bercampur pekikan tawa ria memecah dari antara antara rimbunan hijaunya dededaunan kopi, masing-masing memegang jerigen,panci dan wajan menyeberangi jemabatan untuk mengambil air dan mencucinya di Kali mugi.Sembari menunggu makan siang,dekat jembatan keuda mama yang usiannya sekitar 60-an duduk sambil melilit sehelai daun yang terpotong menjadi dua dengan potongan daun menjadi satu gulungan yang siap di bakar.Melihat keduannya melakukan hal itu,…….. langsung mendekati mereka untuk mencoba roko tradisional tersebut.Ia menyesap rokok daun itu sampai habis,kemudian dikeluarkannya sebungkus rokok Mallboro untuk ditukar dengan ke dua ibu itu.Tak mereka sangka akan diberikan rokok,raut muka terima kasih terlihat diwajahnya.
Waktu makan siang usai perjalan menuju kampung Wuserem .Pukul 06.00 sore baru tiba di Kampung Wuserem.Ques House milik Soleman Asso yang berbentuk Honai terletak di atas bukit menghadap ke arah lekukan aliran sungai baliem yang membentang dari barat hingga ke timur pegunungan memantulkan buratan matahari terbenam menjadi sebuah pemandangan indah ketika melepaskan penat seharina perjalanan.
Jika malam tiba kampung dalam sekejap diselumuti gelap gulita,sebatang lilin membiaskan cahaya menerangi seisi honai mengantarkan kami untuk makan malam bersama.
Malam semakin larut,rasa kantukpun datang,sebuah honai berukuran kecil beralaskan alang-alang,gelap,hanya terdengar suara nayian burung malam dan pekikan jangkrik seakan mengusir rasa dingin. Gemuru derasnya sungai balim mengantarkan tidur malam kami.
Meyingkapnya matahari pagi,jumat(25)bertanda perjalanan akan dilanjutkan,usai sarapan. Dari Kampung Wuserem menuju kampung syokosimo,2 jam menapaki gunung untuk memasuki kampung Syokosimo yang lebah dikelilingi gunung.
Kampung syokosimo dan kampung-kampung sekitarnya  merupakan kamapung yang benar-benar jauh dari berbagai akses mulai dari pendidikan formal,SD,SMP dan SMA,akses akan kebutuhan ekonomi,Fasilitas Kesehatan informasi,Jaringan komunikasi yang masih belum terakses.Akses jalan penghubung mengunakan kendaraan roda dua dan empat,sama sekali belum khususnya antar kampung satu ke kampung yang lain dibalik Gunung-gunung yang terjal.
Tak jarang dari masyarakat dikampung-kampung lalu-lalang mengunakan jalan setapak dengan noken dikepala yang berisikan beras,minyak goreng,supermi,rokok,skop, (sembilan bahan pokok lainya),menyeberangi gunung,kali Mungi dan Sungai Baliem.
Jaret Kobak,memikul beras,minyak goreng,rokok saat di temui di tengah jalan,mengatakan kalau ia sedang menuju kampung Anggruk.”Kalau malam,saya bermalan di salah satu kampung,kemudian melanjutkan perjalanan keesokan paginya,paling lama satu setengah hari”Ungkapnya.
Sabtu (26) pagi merupakan hari terakir tour Mulai dari Kampung Kurima,Kilise,Wuserem dan Syokosimo.Dari syokosimo 5 jam perjalanan menuju  kota wamena dengan titik centeralnya di Distrik Kurima,Berhubung longsornya tanah sehingga akses jalan dari kurima-menuju Kota Wamena terputus total dan kendaraan satu-satunya motor Ojek dengan ongkos Rp 10 ribu per-orang menuju ujung kali Yetni bekas longsor akibat hujan deras membawa serta bebatuan besar, bercampur lumpur coklat terus mengalir ke sungai Balim.Disebrang terlihat mobil angutan jenis starwagon,L200 dan Kijang sedang menunggu penumpang diantaranya kami yang hendak menuju Kota Wamena.